TRΛNSTV JΛBΛR | OPINI - Pernyataan Ketua Umum PBNU KH Yahya Cholil Staquf atau Gus Yahya yang menyatakan siap kembali maju dalam Muktamar NU ke-35 di Jombang memicu perdebatan di kalangan warga Nahdliyin.
Alasan yang disampaikan, yakni ingin menuntaskan program dan melunasi "utang" kepada warga NU, dinilai perlu diukur dari capaian kepemimpinannya selama lima tahun terakhir.
Dalam pandangan penulis, dalih menyelesaikan agenda yang belum rampung justru menimbulkan pertanyaan. Jika berbagai program strategis belum dapat dituntaskan pada periode pertama, apakah hal tersebut menjadi alasan untuk kembali memimpin, atau justru menjadi bahan evaluasi bagi organisasi untuk menghadirkan kepemimpinan baru.
Penulis menilai kepemimpinan Gus Yahya telah menggeser orientasi PBNU dari organisasi masyarakat sipil ke ruang politik yang lebih pragmatis. Konflik dengan PKB hingga polemik pengelolaan usaha berbasis konsesi pemerintah dinilai menjadi catatan yang memengaruhi persepsi publik terhadap independensi organisasi.
Kritik juga diarahkan pada tata kelola internal PBNU. Dominasi struktur Tanfidziyah dinilai mengurangi peran strategis Syuriyah dalam pengambilan keputusan, sehingga dianggap tidak sepenuhnya sejalan dengan semangat kolektif-kolegial dalam Qanun Asasi yang dirumuskan Hadratussyaikh KH Hasyim Asy'ari.
Dalam aspek ideologis, penulis menilai kepemimpinan PBNU belum mampu menjaga marwah organisasi dari pengaruh kepentingan luar. Salah satu yang disorot ialah polemik kunjungan sejumlah kader NU ke Israel yang dinilai mencederai solidaritas terhadap perjuangan rakyat Palestina dan memicu kritik dari berbagai kalangan.
Bagi penulis, langkah diplomasi yang dianggap terlalu kompromistis terhadap Israel juga dipandang bertentangan dengan semangat Qanun Asasi yang menekankan keberpihakan kepada pihak yang tertindas dan penolakan terhadap segala bentuk penjajahan.
Karena itu, isu tersebut dinilai bukan sekadar persoalan diplomasi, melainkan menyangkut arah ideologis organisasi.
Atas berbagai pertimbangan tersebut, penulis berpendapat Muktamar NU ke-35 semestinya menjadi forum evaluasi kepemimpinan, bukan sekadar ruang memperpanjang masa jabatan.
Regenerasi dinilai penting agar NU kembali fokus pada pelayanan umat, memperkuat peran Syuriyah, menjaga independensi organisasi, serta berpegang pada nilai-nilai perjuangan para muassis Nahdlatul Ulama.
Penulis: Fathur Ar Razaq (Santri Krapyak Yogyakarta, Khodimul Ummah, Ketua Forum Komunikasi Santri Indonesia)
Redaksi: TRΛNSTV JΛBΛR
513
