Politisi Partai Golkar itu menilai kebijakan tersebut menjadi langkah positif untuk menanamkan nilai kebaangsaan di tengah pesatnya perkembangan teknologi serta arus informasi.
"Pada prinsipnya hal tersebut baik-baik saja mengingat Bung Karno juga pernah menjadi presiden pertama kita. Namun yang paling penting sebenarnya adalah bagaimana nilai etika dan moral dapat semakin diperkuat," ujar Blegur, Selasa (1/6/2026).
Tantangan generasi muda saat ini, kata Blegur, bukan hanya perkembangan teknologi, tetapi juga memudarnya pendidikan moral dan karakter. Karena itu, nilai-nilai Bung Karno dinilai relevan untuk memperkuat wawasan kebangsaan.
Blegur juga menyoroti fenomena FUMU, yakni kecenderungan generasi muda mengikuti tren tanpa mempertimbangkan etika maupun kearifan lokal.
"Generasi Z saat ini banyak mengikuti tren yang belum tentu sesuai dengan etika dan kearifan lokal. Karena itu, pendidikan moral dan etika perlu diperkuat, termasuk melalui nilai-nilai ajaran Bung Karno," katanya.
Sebelumnya, Wali Kota Surabaya Eri Cahyadi menyatakan Pemerintah Kota Surabaya berencana memasukkan buku Bung Karno: Aku Arek Suroboyo sebagai materi pembelajaran bagi siswa SD dan SMP.
Menurut Eri, kebijakan tersebut bertujuan memperkuat pemahaman sejarah serta menanamkan nilai perjuangan, nasionalisme, dan karakter kebangsaan kepada generasi muda.
Reporter: Tri Wahyudi, S.H.,
Redaksi: TRANSTV JABAR
316
