BREAKING NEWS  
 
          TRANSTV JABAR...              Media Profesional Berwawasan Universal      

Mahasiswa dan Reformasi Jilid II

Sumber foto: Ryandi Zahdomo/JawaPos.com
(Sumber foto: Ryandi Zahdomo/JawaPos.com)

TRANSTV JABAR | OPINI - Ketika berbagai lembaga politik dan sosial dinilai semakin jauh dari harapan publik, sebagian kalangan kembali menaruh harapan kepada mahasiswa sebagai agen perubahan. Sejarah mencatat, mahasiswa kerap menjadi kelompok yang pertama menyuarakan kritik saat arah perjalanan bangsa dianggap mulai menyimpang.

Fenomena itu kembali terlihat dalam gelombang aksi mahasiswa yang berlangsung di sejumlah daerah pada Senin (15/6/2026). Di Jakarta, ratusan mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi menggelar aksi di depan Gedung DPR/MPR RI dengan membawa berbagai tuntutan yang mereka kemas dalam narasi "Reformasi Jilid II".

Berbagai spanduk bertuliskan kritik terhadap kondisi ekonomi, kebijakan pemerintah, hingga arah pembangunan nasional mewarnai aksi tersebut. Massa menyampaikan aspirasi melalui orasi, sementara aparat keamanan melakukan pengamanan di sejumlah titik strategis ibu kota.

Gelombang aksi serupa juga berlangsung di berbagai daerah, mulai dari Bandung, Semarang, Malang, Medan, Padang, Palembang, Lampung, Banjarmasin, hingga Balikpapan. Meski memiliki isu lokal yang berbeda, sebagian besar tuntutan berfokus pada persoalan ekonomi, lapangan kerja, pendidikan, tata kelola pemerintahan, serta evaluasi sejumlah program nasional.

Bagi sebagian mahasiswa, gerakan ini merupakan bentuk kepedulian terhadap kondisi bangsa. Mereka memandang kritik dan kontrol sosial sebagai bagian dari tanggung jawab moral generasi muda terhadap masa depan negara.

Dalam sejarah Indonesia, mahasiswa memang memiliki posisi yang unik. Mereka bukan pemegang kekuasaan, bukan pula pengambil kebijakan. Namun suara mereka kerap menjadi penanda ketika muncul keresahan yang berkembang di tengah masyarakat.

Tentu setiap tuntutan dan kritik perlu diuji melalui data, dialog, serta mekanisme demokrasi yang sehat. Namun di sisi lain, negara juga perlu mendengarkan suara yang muncul dari kampus-kampus sebagai bagian dari dinamika demokrasi.

Sebab dalam banyak momentum sejarah, perubahan besar sering kali diawali dari keberanian sekelompok anak muda yang memilih bersuara ketika banyak orang memilih diam.

Apakah gelombang aksi ini akan menjadi titik lahirnya perubahan baru atau hanya menjadi catatan sesaat dalam perjalanan demokrasi Indonesia, waktu yang akan menjawabnya. Yang pasti, ketika mahasiswa di berbagai daerah mulai bergerak serentak, publik patut memperhatikan pesan yang sedang mereka sampaikan.

Oleh: Leo Sugoto Sulistyono (Kompas TV)
Redaksi: TRANSTV JABAR


1.032  
Lebih baru Lebih lama