![]() |
| Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa memimpin Misi Dagang dan Investasi Jawa Timur di Jeddah, Arab Saudi, Jumat (25/9/2026). (Foto: Dok. Three) |
TRANSTV JABAR | SURABAYA - Misi Dagang dan Investasi Jatim di Jeddah mencatat potensi transaksi Rp6,7 triliun. Forum yang dipimpin Gubernur Jatim Khofifah Indar Parawansa itu mempertemukan pelaku usaha Jatim dengan mitra bisnis Arab Saudi, Jumat (25/9/2026).
Kegiatan tersebut dirangkai dengan forum bisnis yang membahas peluang perdagangan, industri halal, investasi, serta kebutuhan pendukung ibadah haji dan umrah.
Khofifah mengatakan, potensi transaksi tersebut merupakan hasil kurasi, business matching daring, hingga pertemuan bisnis secara langsung (one-on-one meeting).
“Melalui proses kurasi, business matching daring, hingga one-on-one meeting, potensi transaksi yang tercatat mencapai Rp6,7 triliun,” kata Khofifah.
Menurutnya, komitmen perdagangan tersebut perlu segera ditindaklanjuti dengan membahas kebutuhan produk, kapasitas pasokan, dan ketentuan perdagangan kedua negara.
Komoditas yang ditawarkan meliputi pangan, kopi, teh, rempah-rempah, olahan ikan dan daging, fesyen, plastik, kertas, bahan kimia, mesin industri, hingga suku cadang kendaraan.
Jawa Timur juga menawarkan potensi produk wastra dan bordir untuk memasuki pasar Arab Saudi dan kawasan Timur Tengah.
“Wastra dan bordir Jawa Timur berkualitas serta memiliki potensi besar. Mudah-mudahan kita dapat memperluas akses pasar di Arab Saudi dan Timur Tengah,” tutur Khofifah.
Selain perdagangan produk, Pemprov Jawa Timur mendorong penguatan kerja sama rantai pasok untuk mendukung kebutuhan logistik haji dan umrah.
Khofifah menyebut Jawa Timur memiliki ekosistem industri, perdagangan, logistik, dan halal yang dapat menjadi modal untuk membangun kemitraan dengan Arab Saudi.
Dari sisi infrastruktur, Jawa Timur memiliki 13 kawasan industri, dua Kawasan Ekonomi Khusus, satu kawasan industri halal, 37 pelabuhan, tujuh bandara, serta 12 ruas jalan tol.
Pelabuhan Tanjung Perak juga menjadi simpul distribusi utama ke Indonesia Timur, sekaligus memperkuat posisi Jatim sebagai pusat produksi, distribusi, dan logistik.
Peluang kerja sama turut didukung ekosistem halal Jatim yang mencakup kawasan industri, laboratorium, rumah potong hewan, serta lembaga dan SDM halal.
“Ekosistem halal ini penting karena yang kita tawarkan bukan sekadar produk. Kita ingin membangun rantai nilai yang didukung kawasan industri, proses produksi, sertifikasi, sumber daya manusia, hingga distribusi,” jelas Khofifah.
Perdagangan Jatim-Arab Saudi pada Januari-Juni 2026 mencatat ekspor US$74,68 juta dan impor US$24,28 juta, dengan surplus perdagangan US$50,40 juta.
Misi dagang tersebut juga diarahkan untuk mempertemukan pelaku usaha Jawa Timur dengan calon pembeli dari Arab Saudi sekaligus menawarkan berbagai peluang investasi di Jawa Timur.
Sekitar 50 perusahaan dan pelaku usaha Arab Saudi hadir dalam forum, mencakup sektor perdagangan, pangan, halal, farmasi, kosmetik, parfum, ritel, dan investasi.
Khofifah menegaskan Jatim ingin memperkuat posisi sebagai mitra strategis Arab Saudi melalui kekuatan industri, ekosistem halal, logistik, dan pelaku usaha.
“Jawa Timur ingin hadir bukan hanya sebagai daerah penghasil, tetapi juga mitra strategis yang siap menghubungkan industri, ekosistem halal, logistik, dan pelaku usaha dengan pasar Arab Saudi,” pungkasnya.
Reporter: Tri Wahyudi, S.H.,
Redaksi: TRANSTV JABAR
1.257
