![]() |
| Menteri Luar Negeri Spanyol José Manuel Albares (kanan) bersama Menteri Luar Negeri Maroko Nasser Bourita (kiri) dalam pertemuan bilateral. (Foto: Dok. Persisma) |
Bantahan itu muncul setelah media Spanyol memberitakan dugaan rencana darurat. Madrid menegaskan tetap mengutamakan kerja sama strategis dengan Rabat, termasuk dalam isu migrasi dan keamanan perbatasan.
Hubungan Spanyol dan Maroko meliputi perdagangan, keamanan, migrasi, investasi, dan stabilitas Mediterania. Namun, isu Ceuta dan Melilla serta arus migrasi masih menjadi tantangan sensitif bagi kedua negara.
Presiden Indonesia-Sahara-Morocco Brotherhood (Persisma), Wilson Lalengke, menyambut positif sikap kedua negara yang tetap mengutamakan komunikasi dan diplomasi.
“Kami di Persisma menyambut baik setiap langkah diplomasi yang mengedepankan dialog dan kerja sama konstruktif antara Spanyol dan Maroko,” ujar Wilson dari Jakarta, Rabu (2/9/2026).
Menurut Wilson, persoalan migrasi dan keamanan perbatasan membutuhkan pendekatan yang tidak hanya berorientasi pada keamanan, tetapi juga memperhatikan aspek kemanusiaan.
“Diperlukan dialog, koordinasi, dan kerja sama yang mampu memperhatikan aspek keamanan sekaligus kemanusiaan,” katanya.
Ia menilai penguatan hubungan bilateral kedua negara penting untuk menjaga stabilitas ekonomi dan keamanan di kawasan Mediterania.
“Persoalan lintas batas tidak cukup diselesaikan dengan pendekatan sepihak. Diplomasi dan kerja sama harus menjadi instrumen utama untuk mencari solusi yang berkelanjutan,” tegas Wilson.
Persisma berharap Spanyol dan Maroko memperkuat komunikasi serta kerja sama bilateral dalam menangani migrasi dan keamanan perbatasan secara damai, konstruktif, dan saling menghormati.
Reporter:. F. A. Fadilah. A
Redaksi: TRANSTV JABAR
1.016
Tags
Internasional
