Rumah yang ditempati mengalami kerusakan parah, mulai dari atap bocor di hampir seluruh bagian, dinding rapuh, hingga struktur bangunan yang melemah. Saat hujan turun, air kerap masuk ke dalam rumah dan memperburuk kondisi hunian.
“Ya gimana Pak, kondisi begini… makan saja kadang kurang layak. Rumah juga seperti ini, bocor di mana-mana. Katanya ada program bantuan, tapi sampai sekarang belum terasa. Jawabannya selalu soal rezeki saja,” ujar Nanang, Minggu (12/4/2026).
Ia menambahkan, kondisi rumah tersebut sudah lama rusak namun tidak mampu diperbaiki secara mandiri. Setiap hujan turun, keluarga harus menghadapi air yang masuk ke dalam rumah.
“Kalau hujan, pasti bocor semua. Sudah tidak bisa diperbaiki sendiri. Takutnya malah roboh,” lanjutnya.
Nanang yang tinggal bersama istri dan anak-anaknya, termasuk anak yang masih duduk di bangku kelas 1 SMP dan balita berusia 3 tahun, berharap ada perhatian serius dari pemerintah.
“Harapannya ya ada yang melihat langsung kondisi kami. Jangan hanya yang mampu saja yang dibangun. Kami yang benar-benar butuh justru seperti tidak terlihat,” tuturnya.
Sementara itu, Kepala Desa Sabandar, Dedi Saepudin, saat dikonfirmasi menyampaikan bahwa bantuan perbaikan rumah tersebut masih dalam proses.
“Belum ada bantuannya, sedang diperjuangkan,” katanya.
Kondisi ini menjadi sorotan di tengah gencarnya program bantuan rumah layak huni, namun masih terdapat warga yang belum tersentuh dan harus bertahan dalam kondisi berisiko tinggi.
Reporter: Rian Sagita
Tags
Daerah

