Dialog Refly Harun dan Sri Eko Sriyanto Galgendu
Oleh: Jacob Ereste
TRANSTV JABAR | OPINI & ANALISIS - Dalam lanskap pemikiran modern yang menempatkan rasionalitas sebagai pusat, dialog antara Refly Harun dan Sri Eko Sriyanto Galgendu menghadirkan perspektif alternatif, yaitu sebuah rekonsiliasi antara intelektualitas dan spiritualitas.
Ulasan terhadap “Kitab MA HA IS MA YA” yang disampaikan dalam bentuk doa dan syair membuka ruang tafsir yang tidak hanya rasional, tetapi juga kontemplatif. Pada titik inilah olah pikir dan olah batin bertemu dua dimensi yang selama ini kerap berjalan sendiri-sendiri dalam kehidupan modern.
Keterpaduan antara nalar dan nurani menjadi kebutuhan mendasar. Intelektualitas tanpa spiritualitas berisiko kehilangan arah, sementara spiritualitas tanpa rasionalitas dapat kehilangan pijakan. Dialog ini menunjukkan bahwa keduanya bukan untuk dipertentangkan, melainkan saling melengkapi: pendekatan kritis bertemu dengan kedalaman makna.
Fenomena ini menjadi semakin relevan di tengah krisis etika yang kian mengemuka. Ketika hukum dan kekuasaan terlepas dari nilai moral, keduanya berpotensi tereduksi menjadi sekadar instrumen kepentingan. Di sinilah spiritualitas berperan sebagai kompas penjaga arah keadilan sekaligus pengingat akan tanggung jawab kemanusiaan.
Melalui medium digital seperti podcast, gagasan ini tidak hanya hadir sebagai diskursus, tetapi juga sebagai ruang refleksi publik. Ia bahkan dapat berfungsi sebagai terapi sosial, terutama bagi para pengambil kebijakan, agar tetap berpijak pada nilai-nilai kemanusiaan dalam setiap keputusan.
Apresiasi terhadap pendekatan spiritual ini menandai pergeseran penting dalam ruang intelektual: bahwa kecerdasan rasional semata tidak lagi memadai. Peradaban yang utuh membutuhkan kecerdasan spiritual sebagai penuntun etika, moral, dan arah kehidupan bersama.
Pada akhirnya, dialog ini bukan sekadar percakapan dua tokoh, melainkan refleksi kebutuhan zaman. Sebuah pengingat bahwa masa depan tidak hanya ditentukan oleh kecanggihan berpikir, tetapi juga oleh kedalaman jiwa dalam memahami makna kehidupan.
👁 2.124
Tags
Opini & Analisis
