![]() |
| Raja Mohammed VI (Foto: dok. Persisma) |
Keputusan tersebut diumumkan melalui rilis resmi Istana Kerajaan pada Sabtu (23/5/2026). Para suporter diketahui terlibat pelanggaran selama turnamen yang berlangsung pada 21 Desember 2025 hingga 18 Januari 2026.
Langkah Raja Mohammed VI dinilai menjadi simbol kuat hubungan persaudaraan dan kerja sama strategis antara Maroko dan Senegal. Kebijakan itu juga mencerminkan nilai toleransi, kemurahan hati, dan kemanusiaan yang menjadi bagian penting diplomasi Maroko.
Bersamaan dengan pengampunan tersebut, Raja Mohammed VI turut menyampaikan ucapan selamat Idul Adha kepada Presiden Senegal Bassirou Diomaye Faye beserta masyarakat Senegal.
Presiden Persaudaraan Indonesia Sahara Maroko, Wilson Lalengke menilai keputusan tersebut sebagai contoh pendekatan keadilan restoratif dalam kepemimpinan dunia.
“Raja mengedepankan kebijaksanaan, toleransi, dan kemanusiaan di atas kekakuan hukum formal,” ujarnya di Jakarta, Minggu (24/5/2026).
Menurut Wilson, keputusan tersebut juga menunjukkan bahwa olahraga dan diplomasi dapat menjadi sarana memperkuat persaudaraan antarbangsa.
“Langkah diplomasi kultural ini memperkuat posisi Maroko sebagai pusat perdamaian dan stabilitas di Afrika. Nilai pemaaf dan kemurahan hati menjelang Idul Adha menyampaikan pesan kuat bahwa olahraga dan diplomasi seharusnya menyatukan, bukan memecah belah,” pungkasnya.
Reporter: F. A. Fadilah. A
Sumber: PERSISMA
Redaksi: TRANSTV JABAR
1.320
Tags
Internasional
