Ketua Fraksi PKS DPRD Jawa Timur Hj. Lilik Hendarwati, S.Ak., mengatakan meningkatnya temuan kasus TBC harus menjadi perhatian serius. Namun, masyarakat tidak perlu panik karena kenaikan kasus juga menunjukkan skrining dan deteksi dini yang semakin aktif.
"Meningkatnya temuan kasus TBC menunjukkan skrining dan deteksi dini semakin aktif sehingga penderita dapat segera diobati dan risiko penularan dapat ditekan," ujarnya, Jumat (12/6/2026).
Menurutnya, penanganan TBC memerlukan sinergi seluruh elemen masyarakat, mulai dari RT/RW, sekolah, tempat ibadah, hingga dunia usaha.
Lilik juga menekankan pentingnya edukasi gejala TBC, pemeriksaan dini, dan kepatuhan berobat untuk menghilangkan stigma terhadap penderita.
"Stigma terhadap penderita TBC masih tinggi, padahal penyakit tersebut dapat disembuhkan melalui deteksi dini dan pengobatan yang teratur," katanya.
Ia mengajak masyarakat untuk mendukung penderita TBC agar dapat menjalani pengobatan hingga tuntas.
"Jangan mengucilkan penderita TBC, melainkan rangkul dan dukung mereka agar pulih. Gotong royong dan kesadaran bersama menjadi kunci menekan penyebaran TBC serta mewujudkan Surabaya yang lebih sehat," tambahnya.
Selain itu, Ia mendorong Pemkot Surabaya memperluas skrining dan pelacakan kontak, menjamin ketersediaan obat, memberikan dukungan gizi bagi pasien kurang mampu, serta memperkuat koordinasi layanan kesehatan.
Data Dinas Kesehatan Surabaya periode Januari-Mei 2026 mencatat 44.088 dari 61.624 suspek TBC telah diperiksa. Sementara skrining telah menjangkau 644.201 penduduk atau 45,78 persen dari target.
Melalui upaya deteksi dini dan penguatan edukasi diharapkan mampu menekan penyebaran TBC serta meningkatkan keberhasilan pengobatan di Surabaya.
Reporter: Tri Wahyudi, S.H.,
Redaksi: TRANSTV JABAR
562
